Bagaimana Caranya untuk Menjadi Ikhlas?

Bicara soal ikhlas tentu bicara soal melepaskan, benar? ya hampir kebanyakan orang berfikir demikian. Padahal jika kita telaah lebih dalam (kali aja totalitas haha) bukan tentang melepaskan saja bisa dikatakan ikhlas. lalu apa? Entahlahh, mari kita telaah bersama. 
Belakangan ini entah kenapa baru aku tersadar ternyata banyak yang melontarkan pertanyaan padaku mengenai "ikhlas". Padahal kalau boleh jujur, kegiatanku belakangan ini ya bisa dikatakan dekat sekali dengan kata tersebut. Mungkin karena aku belum sadar dengan apa yang kuhadapi belakangan ini, pertanyaan-pertanyaan yang sering kudengar tentang satu kata tersebut jelas mempengaruhi fikiranku. Jleeb.. ohya ikhlas. 

"Mill, gimana sih caranya ikhlas?"
"Mill, ajarin aku untuk bisa ikhlas dong!"

Dengan pertanyaan demikian, aku yang juga bisa dikatakan sebagai manusia biasa, yang kadangkala bisa terluka atau berbuat salah, hanya bisa tersenyum maklum. Why? aku mau jawab bagaimanapun juga aku sendiri terkadang tidak menyadari apa yang akan kukatakan. Mungkin mereka berfikir atas responku mengenai pertanyaan mereka, dengan cara tersenyum bisa dikatakan "ikhlas"begitukah? Ya, tidak atau mungkin bisa jadi haha. Kenapa demikian? Tersenyum untuk sebagian spekulasi orang-orang bisa dikatakan dengan ikhlas, tapi apa iya benar-benar ikhlas? No, untuk sebagian orang dengan tersenyum itu amat sangat membuatnya terluka. munafik jelas. tersenyum dibalik beratnya rasa melepaskan atau menerima. Who knows bukan isi hati orang-orang?. Bahkan ada yang tak menunjukkan senyum tersebut karena tak ingin dianggap munafik. Manusia gengssss, wajar kokk.

Islampun mengajarkan kita untuk ikhlas, terutama ikhlas pada takdir yang kadang tidak sesuai dengan inginnya kita. Bukankah manusia hobi sekali berekspektasi? lalu bagaimana dengan takdir yang tidak sejalan dengan ekspektasi kita? Ketika tidak sejalan, apakah sepenuhnya kita terus menyalahkan keadaan? tidak temaann. Disitulah ikhlas mulai berperan. Ikhlas atau dengan kata lainnya menerima dengan legowo alias lapang dada terhadap apa yang terjadi tanpa menyalahkan apapun dan siapapun. Mudah? tak juga. Fair kok. 

Well,, mungkin ini cara belajar ikhlas versinya aku yaa.. jadi bagaimanapun caraku mengenai ikhlas ini semua kembali ke teman-teman, senyamannya saja, jangan paksakan. haha.

Simple saja. Jika aku harus kembali lagi dengan kejadian beberapa waktu lalu, dimana aku mau tidak mau harus melepaskan pilihan awalku mengenai sesuatu, jujur sih itu memang berat. Tapi mari kembali pada takdir. Pertama terhadap pilihan awalku, effortku untuk mempertahankan pilihan awal sudah kulakukan sekuat tenaga. Dimana ekspektasiku, aku mampu mempertahankannya. Nyatanya? nyegeriin haha engga semudah itu ferguso. Nyatanya aku tak mampu mepertahankannya. Berbagai macam usaha, do'a dan keyakinan untuk mempertahankan pilihan awal, namun jika Tuhan berkata takdirku bukan dipilihan awal bisa apa? disanalah perlahan kumulai menerima. ikhlas akhirnya terlontar. haha. Entah akan ada sesuatu yang baik atau tidak dipilihan kedua, pasrah dan berserah. gada yang tau bukan. 

berusaha memikirkan kemungkinan-kemungkinan baik ketika mau tidak mau menerima pilihan kedua dan melepaskan pilihan pertama juga sudah bisa dikatakan perlahan ikhlas. Jangan lupa untuk selalu libatkan Allah swt, libatkan Tuhan atas setiap keputusan. semoga apa yang menjadi pilihan itu yang terbaik. Entah kenapa caraku untuk bisa ikhlas adalah dengan berpositif thinking terhadap pilihan Allah. Walaupun awalnya rada berat untuk menerima, melepaskan, tapi dengan posthink akan hasilnya selanjutnya, mudah-mudahan perlahan bisa menerima kata ikhlas tersebut. 

Baiqlaa (denga kondisi mata 5watt hehe).. kembali pada kata-kata "bukan menggurui, tapi kita belajar bersama", itu ikhlas versi Milla. Mungkin teman-teman punya pandangan lain mengenai satu kata ini, bisa sharing disini juga kok. Semanagat mantemaann. Salam hangat dari Milla^^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelajaran Berharga dari Kesalahan Kecil

Momen Kecil, Syukur Besar..

Saat Kita jadi Musuh Terbesar bagi Diri Sendiri