Saat Kita jadi Musuh Terbesar bagi Diri Sendiri
Morning everyonee!! *lumayan telat banget ya posting kali ini huhu
Gimana hari-hari kalian belakangan ini? Menyenangkan bukan? hhmm atau malah bikin emosi negatif kalian campur aduk ya? hahaha apapun itu, gamasalah kok, asal teman-teman bisa segera aware dengan apa yang dirasa.
Lagi marah? kesal? atau benci? sama diri sendiri atau mungkin seseorang atau bahkan dengan hal lainnya? Nikmatin dulu aja gak sih marahnya, cerna pelan-pelan, apa yang sebenarnya bikin teman-teman merasa marah atau kesal, butuh waktu berapa lama kira-kira dan gimana untuk mengatasinya. Paling penting itu, take your time, self control juga gak kalah penting ya, kalo bisa jangan libatkan orang lain untuk merasakan emosi negatif teman-teman.
Untuk itu, coba ambil space sebentar untuk cerna emosi dan kontrol diri teman-teman ya ^^
Hhm sering kali kita tanpa sadar menjadi hakim paling keras untuk diri sendiri. Ketika melakukan kesalahan kecil, kita langsung merasa seolah dunia runtuh, pikiran kita berputar-putar, mengulang momen itu berkali-kali, sambil menuduh diri sendiri dengan kata-kata yang pedih. Ironisnya, kata-kata itu bahkan gak akan pernah kita ucapkan pada orang lain yang berbuat salah. Kenapa begitu ya? ada yang tau?
Kita mudah sekali memberi maaf pada orang lain. Kita bisa mengerti bahwa setiap orang pasti pernah keliru, bisa memberi semangat agar mereka bangkit. Tetapi pada diri sendiri? Entah mengapa kita sering enggan memberi keringanan, enggan memberi ruang untuk maklum bahwa kita juga manusia. Benar apa benar? hahah.
Kita cenderung membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Kita merasa tertinggal, merasa tidak cukup baik, lalu menuntut diri agar selalu sempurna. Padahal, semakin keras kita menekan, semakin besar pula luka yang kita buat di dalam hati.
Belajar untuk bersikap lembut pada diri sendiri bukan berarti berhenti berusaha. Justru sebaliknya, dengan berbelas kasih pada diri, kita memberi kesempatan untuk tumbuh. Kita bisa melihat kegagalan bukan sebagai akhir, tetapi sebagai pelajaran yang membawa kita selangkah lebih dekat pada versi diri yang lebih baik.
Bayangkan jika setiap kali jatuh, kita berkata:
“Gak apa-apa kok, ini bagian dari proses.”
“Gak pa-pa, yang penting kita belajar dan melanjutkan langkah.”
“It's okay gak sempurna, karena manusia memang ditakdirkan untuk bertumbuh, bukan untuk tanpa salah.”
Hidup di dunia yang sudah keras ini cukup melelahkan. Ada tuntutan, ekspektasi, dan tekanan dari luar yang terus datang silih berganti. Ya seenggaknya, jangan lagi kita menambah beban dengan menjadi musuh bagi diri sendiri.
Coba yuk kita belajar untuk lebih sering memeluk diri sendiri—dengan segala kekurangan, keterlambatan, dan ketidaksempurnaan, karena ketika kita berhenti menghukum diri, justru di situlah kita menemukan kekuatan baru untuk melangkah dengan lebih tenang. Bener gak nih teman-teman? Punya pengalaman dengan diri sendiri? sharing yuk ☺
Komentar
Posting Komentar