Mengenal Diri Sendiri pada Fase QLC

Assalamu’alaikum wr, wb...

Haluha.. siapapun yang membaca ini, semoga selalu dalam lindungan-Nya ya, and stay safe wherever you are. Sebelum masuk ke cerita panjangku, kurang afdhol rasanya kalau aku tidak memperkenalkan diri dulu (lagi). Lama tak sapa teman-teman nihh hihi.

Sepertinya sharing kali ini agak sedikit kaku yah, but it's okey semoga bisa diterima yah. 

Kenalin nih, aku adalah seorang perempuan yang memiliki banyak pertanyaan random tentang hidup dalam pikiranku. Yaa, apalagi namanya kalau bukan berada di fase Quarter Life Crisis, saat itu tepatnya. Entah bagaimana aku –akhirnya bisa bertemu atau berteman dengan yang namanya overthink, insecure, negative thinking dan teman-teman yang satu spesies lainnya dalam quarter life crisis ini.

Sebenarnya sudah sejak saat masa kuliah pikiranku dihantui dengan pertanyaan-pertanyaan random tentang diriku dan hidupku. Namun, hanya saja di masa itu aku terlalu bodo amat hingga akhirnya benar-benar lelah dengan apa yang aku lakukan. Tepatnya ketika akhirnya aku bisa menambah ceklist pada note tentang list my dream saat itu, lulus sidang skripsi. Yap benar sekali, hampir setiap bulan aku selalu mencatat beberapa list target dan mimpiku. Terkesan kaku memang, tapi itu adalah salah satu caraku untuk terus membangkitkan semangat diri dalam meraih mimpi. Setelah lulus kuliah, tentunya aku dihadapkan dengan berbagai macam pilihan hidup. Coba bayangkan ketika kita sangat suka dengan permen dan coklat namun dengan berat hati harus memilih satu diantaranya. Ada rasa tidak tega untuk melepas salah satunya. Ada rasa takut bercampur khawatir dengan pilihan yang diambil. Pertanyaan-pertanyaan yang ditemani overthinking terbesit seketika. Apakah pilihan ini yang terbaik? Bagaimana kalau ternyata bukan ini? bagaimana kalau ternyata aku salah? Dan pertanyaan lainnya.

Untuk manusia-manusia overthink, pernah ngerasa capek gak sih dihantui pertanyaan yang bahkan jawabannya belum tentu sama dengan ekspektasi atau harapan kita. Capek kan? Capek banget malah. Pernah ga ada rasa ingin teriak, ingin lari atau bebas dari pikiran yang mengganggu hidup kita? Pernah bertanya gak sih, kenapa Tuhan memberikan kita overthinking yang mengganggu ini? Kenapa harus kita yang melalui semua ini? kenapa bukan yang lain saja? Kenapa?.. Dan ketika dihadapkan pada sebuah pilihan, sebelum kita memilih tentu kita akan memiliki banyak pertimbangan dengan bertanya pada diri sendiri. “Mau saya apa? Apa sih tujuan saya sebenarnya? Hingga sadar dengan pertanyaan terakhir kalau ternyata menunjukkan bahwa kita belum mengenal diri sendiri. “siapa dan bagaimana aku sebenarnya?”. Jlep.

Setelah beberapa waktu ditodong oleh pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu, dari yang belum memiliki kegiatan apa-apa sedari lulus pendidikan sampai akhirnya memiliki kegiatan yanng terbilang cukup untuk mengisi kekosongan wktu selama ini –tadinya.  Bertemu dengan orang-orang dan lingkungan baru, habits dan culture yang baru, mau tidak mau ya kita harus bisa menempatkan diri kita sebaik mungin. Otomatis teman hidup kita bertambah dong selain pikiran yang berlebihan, tidak lain dan tidak bukan berteman dengan insecuritas.

Untuk mereka yang belum mengenal dirinya, tentu sulit dan perlu waktu yang cukup lama untuk bisa beradaptasi. Lain halnya dengan mereka yang sudah benar-benar mengenal dirinya, tentu akan cepat dan mudah beradaptasi dengan lingkungan dan kebiasaan barunya. Kenapa? Karena, mereka yang telah mengenal dirinya ini, tau apa yang diinginkan oleh dirinya sendiri. selain itu, menjadikan kita berani dalam mengambil keputusan dan resiko dalam sebuah pilihan.

Setelah saya sadar bahwa saya berada dalam fase quarter life crisis ini, saya mencoba mencari tau dan sharing dengan teman-teman yang telah paham dan lebih dulu mengenal dirinya. Ternyata, berada di fase ini tidak perlu ditakuti. Kenapa? Karena ketika kita telah memasuki fase ini, artinya ada alarm atau tanda bahwa kita mulai beranjak dewasa. Fase ini akan menyerang kita pada usia 20-30 tahun-an, jangan khawatir, fase ini hanya perlu dipahami. Yaps, pahami siapa dan apa mau kita sebenarnya. Dengan kita memahami apa yang kita inginkan dan seberapa besar mengenal diri kita sendiri, tentunya itu akan membantu kita keluar dari fase ini.

Aku pribadi ketika sadar tengah menghadapi fasse quarter life crisis ini, yang aku coba lakukan adalah berusaha tetap tenang dan tidak coba lari dari masalah yang sedang aku hadapi. Setelah mendapat pemahaman tentang quarter life crisis, aku coba untuk berbicara dan mengenal diriku sendiri, lebih dalam. Perlahan dan nikmati saja, jangan terlalu paksakan dirimu untuk bisa segera melewati fase ini.

“Oh ternyata aku kayak gini ya, oh ternyata aku sukanya ini bukan itu, jadi selama ini aku bukan aku ya? Ternyata tujuan aku berada disini itu ya ini,, dan itu”. Yaps, kurang lebih seperti itu pertanyaan bahkan pernyataan yang akan terlontar setelah kita mengenal diri kita. Tidak sampai disitu saja, aku juga mencoba untuk lebih aware dengan diriku sendiri. bagaimana caranya? Salah satunya, ketika aku tau aku sedang lelah ya aku biarkan tubuhku untuk istirahat sejenak, menjaga pola makan, olahraga, self healing dengan melakukan apa yang aku suka. Contohnya seperti menulis, membaca, menggambar, atau mungkin dengan mendengar musik kesukaan sambil melihat view in the morning, haha klasik sekali yah. Itulah aku^^.

Lalu bagaimana dengan overthinking, insecure and negative thinking yang menyerang kita setiap saat tanpa mengenal waktu dan kondisi kita?. Cara aku menghadapi mereka semua ketika tiba-tiba dilanda, aku berusaha untuk inhale and exhale terlebih dahulu, tetap tenang. Setelah itu penuhi pikiranmu dengan mindfulness yang kamu miliki, coba untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda, dengan berpikir “oke tenang ya, it’s not about you kok”, atau “oke percaya deh Allah swt punya rencana baik untukku, aku gaboleh negthink, aku yakin Allah bawa aku sampai sejauh ini pasti ada maksud, dan aku yakin aku bisa melalui semua ini, dengan campur tangan Allah.” Atau bisa juga dengan bodo amat pada  apa yang orang lain fikirkan tentang aku. Bukan berarti kita seenaknya untuk itu dan gaperduli dengan yang lainnya, bodo amat disini artinya tetap jadi diri kamu sendiri tanpa mengganggu bahkan merugikan orang lain. karena mau bagaimanapun kita, yang namanya suka atau engga sukanya orang-orang kepada kita itu pasti ada, keep be your self dan jangan pernah berhenti untuk melakukan kebaikan.

Yapss.. kurang lebih seperti itu cara aku bertemu dan menghadapi quarter life crisis. Dengan sharingku ini bukan berarti aku benar-benar sudah lolos dari fase ini ya. Aku masih terus belajar lebih dalam lagi untuk mengenal diriku dan mencoba menerapkan hal ini ketika suatu waktu dilanda lagi dan lagi. ingat, keep calm and enjoy your self. Plis to life in the moment, okeyy!! Hehe .

Cukup sekian dan terimakasih atas waktu dan kesempatan untuk sharingnya. Percayalah, kita adalah orang-orang luar biasa. Yuk bersama kita buktikan, dengan lebih aware dan terus semangatt menjadi versi terbaik kkita!! ^^

Have a good day everyone!! Wassalamua’laikum, wr, wb..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelajaran Berharga dari Kesalahan Kecil

Momen Kecil, Syukur Besar..

Saat Kita jadi Musuh Terbesar bagi Diri Sendiri