Aku Kembali Bukan Karena Lupa, Tapi Karena Sudah Lebih Mengerti
Haiii everyoneee!!!
I'm back guyss!! hahah apasih, kayak abis darimana aja yah haha.
But, serius, kali ini aku agak telat ya (bukan agak tapi emg telat, banget hahah), telat untuk postingan tulisanku, yaa setelah melalui beberapa momen up and down yang kadang bikin aku benar-benar bingung banget buat jalanin satu persatu semuaanya, yaahh kalian juga pasti pernah ada di posisi itulah ya, jadi paham dong? hahah. Kali ini, aku mau sedikit ngeluapin isi hati aku setelah beberapa waktu yang aku lewatin ini, gatau kalian bisa pahami bahkan bisa relate dengan tulisanku atau engga, tapi yaa inilah keruwetan perasaanku akhir2 ini. Perlahan better, tapi bukan berarti benar-benar sudah baik-baik aja hahaha. Kalian jangan lupa bahagia ya guys.☺
***
Aku pernah memilih menjauh. Bukan karena aku ingin menghilang tanpa jejak atau mengabaikan yang dulu pernah dekat, tapi karena di satu titik, aku merasa dunia di sekelilingku terlalu penuh oleh suara-suara yang tidak lagi bisa kuikuti, dan aku sendiri terlalu letih untuk menjelaskan segala yang bergejolak dalam diriku, kepada orang-orang yang mungkin hanya ingin mendengar, tapi belum tentu ingin mengerti.
Saat itu, aku memutuskan untuk diam-diam mengambil jarak. Keputusan yang tidak terdengar keras, tidak menciptakan kehebohan, dan mungkin tidak disadari siapa pun, tapi buatku, itu adalah momen besar—karena untuk pertama kalinya aku memilih diriku sendiri, meski aku tahu risikonya adalah disalahpahami, dicap berubah, atau bahkan ditinggalkan diam-diam.
Jarak yang aku ambil bukan sekadar menjauh secara fisik. Bukan sekadar berhenti membalas pesan, menunda pertemuan, atau memutus rutinitas sosial yang biasanya begitu lekat. Jarak itu lebih dalam dari apa yang bisa dilihat: ia adalah ruang kosong yang kubuat agar aku bisa kembali mendengarkan isi kepalaku sendiri, memeluk kegelisahan yang selama ini hanya bisa kutekan agar tidak mengganggu orang lain, dan memberi ruang untuk rasa lelah yang selama ini kupaksa untuk diam.
Di fase itu, aku memilih banyak hal yang tidak kukatakan. Bukan karena aku tidak ingin terbuka, tapi karena terlalu banyak hal yang bahkan belum sempat kupahami sendiri. Aku masih bingung mana luka yang sebenarnya, dan mana sekadar perasaan tertumpuk yang belum sempat dirapikan. Dan aku tahu, jika aku mencoba membagikan itu ke orang lain, kemungkinan besar aku hanya akan terdengar seperti membenarkan diri atau mengeluh tanpa arah—dan yaa itu pernah terjadi karena kecerobohanku.
Maka aku diam. Aku tidak menjelaskan apa pun. Tidak meminta orang untuk mengerti. Tidak berusaha membuat mereka tetap tinggal.
Dan dari situ, aku mulai belajar bahwa tidak semua hubungan bisa diselamatkan oleh kejujuran. Kadang, sejujur-jujurnya kita pun akan tetap disalahpahami, karena yang kita hadapi bukan sekadar logika orang lain, tapi juga luka, ekspektasi, dan tafsir mereka sendiri. Selama aku dalam jarak itu, banyak malam yang aku lewati sendirian, bukan dalam kesepian yang menyesakkan, tapi dalam keheningan yang perlahan-lahan terasa menenangkan.
Aku belajar bagaimana rasanya duduk bersama ketakutan tanpa buru-buru mengusirnya. Belajar mendengar suara hatiku yang selama ini terbenam di bawah segala kebisingan dunia luar. Dan pelan-pelan, aku mulai pulih. Bukan pulih yang berarti kembali seperti dulu, tapi pulih dalam bentuk yang baru, aku mulai lebih tenang saat menjawab pertanyaan dari dalam diriku sendiri, lebih jujur saat aku tidak baik-baik saja, dan lebih ikhlas saat harus melepaskan sesuatu yang tidak lagi bisa aku genggam tanpa melukai diri sendiri.
Lalu hari ini aku kembali. Aku muncul lagi di hadapan dunia yang sempat aku jauhi, di hadapan orang-orang yang mungkin bertanya-tanya kenapa aku pernah pergi, atau mungkin juga tidak menyadari kepergianku sama sekali. Tapi aku kembali bukan karena aku sudah lupa. Bukan karena semua luka telah sembuh dan tak meninggalkan bekas. Justru sebaliknya, aku kembali karena aku telah lebih mengerti. Mengerti tentang diriku yang tak sempurna tapi layak dipahami. Mengerti bahwa keberadaanku tidak perlu selalu dijustifikasi agar dianggap cukup.
Dan mengerti bahwa tidak apa-apa jika aku butuh waktu lebih lama untuk bangkit dibanding orang lain. Aku kembali bukan untuk menyambung apa yang sudah patah. Karena aku tahu, tidak semua yang retak bisa diperbaiki tanpa mengubah bentuknya. Aku tidak datang untuk meminta semua orang paham atau memulai dari titik yang sama. Aku hanya ingin hadir kembali sebagai aku yang berbeda yang sudah lebih sadar akan batasnya, lebih menghargai dirinya, dan lebih tenang menghadapi dunia yang kadang tidak pernah benar-benar ramah.
Kalau hari ini kamu melihat aku tersenyum, ketahuilah itu bukan karena hidupku telah sempurna. Itu karena aku sudah menerima bahwa hidup tidak akan pernah benar-benar sempurna, dan bahwa itu tidak membuatku kurang berharga sedikit pun.
Aku kembali—bukan untuk menyenangkan siapa-siapa. Aku kembali karena aku sudah selesai menyalahkan diri sendiri. Sudah cukup melewati malam-malam panjang yang penuh penyesalan. Sudah cukup membungkam suara-suara yang dulu bilang aku harus kuat padahal aku hanya ingin tenang.
Aku kembali bukan sebagai versi terbaik dari diriku, tapi sebagai seseorang yang telah cukup berani untuk jujur, cukup sabar untuk sembuh perlahan, dan cukup sadar bahwa hadir kembali ke dunia ini adalah bentuk keberanian tersendiri.
***
So, gimana? pernah alami dan relate kah? atau walau belum pernah alami apakah teman-teman bisa merasakannya? ya pernah ataupun tidak, pliss untuk aware k diri kalian yaa, dan pliss untuk keep calm jangan gegabah, aware sama perassaan apa yang sedang kalian rasakan dan ya nikmatin dulu sampai akhirya menemukan jalan keluarnya. It's gonna be alright guyss. Semangat yaaa!!
Komentar
Posting Komentar