Apa yang Aku Pelajari dari Diam-diam Mengambil Jarak

Haii everyonnnee!! Bagaimana harimu kemarin? betterkah dari sebelumnya? Kalian pernah mencoba untuk memberi jarak dari apapun dan siapapun tidakk? Bagaimana menghadapinya? dan bagaimana perasaan setelah melaluinya? Sharing yuu ^^

Ada masa di mana aku merasa terlalu bising di dalam, hingga keheningan menjadi satu-satunya suara yang bisa aku pahami. Bukan karena aku tidak ingin dekat, tapi karena aku tidak tahu lagi bagaimana cara hadir tanpa menghilangkan diriku sendiri.

Lalu diam-diam, aku mengambil jarak. Tanpa kata pamit, tanpa penjelasan panjang.
Bukan karena ingin pergi selamanya, tapi karena aku butuh ruang untuk bisa merasa ada di dalam diriku sendiri. Aku pernah merasa bersalah karenanya. Merasa harusnya aku bisa menjelaskan. Tapi semakin aku coba, semakin aku merasa tidak dipahami—dan pada akhirnya justru menyakiti diri sendiri.

Dan selama aku berjalan menjauh itu, aku mulai mengerti satu hal jarak bukan tentang menghilang. Tapi tentang memberi napas,  memberi ruang untuk melihat sesuatu dari tempat yang lebih tenang.
Dari sana aku belajar, bahwa hubungan—dengan siapa pun—bukan soal seberapa sering kita hadir, tapi seberapa tulus kita datang saat benar-benar siap.

Ada malam-malam panjang yang kulewati dalam diam. Ada air mata yang gak tumpah di depan siapa-siapa, tapi dari keheningan itulah aku belajar untuk memeluk diriku yang paling rapuh. Aku mulai mengingat lagi hal-hal kecil yang dulu membuatku hidup seperti menulis tanpa beban, mendengarkan musik tanpa distraksi, menatap langit tanpa harus mencari arti.

Dari jarak itu, aku belajar bahwa tidak semua hal harus diceritakan agar dianggap nyata. Bahwa keheningan tidak selalu berarti kebencian. Dan bahwa menjauh bukan selalu tentang menghindar, tapi bisa jadi bentuk lain dari bertahan. Ada luka yang hanya bisa sembuh saat kita memberi ruang. Ada pertumbuhan yang hanya mungkin terjadi saat kita berani menjauh sebentar dari hal-hal yang dulu terasa dekat. Aku belajar, bahwa memulihkan diri itu gak selalu harus keras. Kadang cukup dengan membiarkan diri diam, mengakui rasa, dan memberi waktu untuk mencerna semuanya perlahan.

Dan tahu gak? Dari proses itu, aku gak cuma belajar mengenal diriku. Aku juga belajar mengenali orang lain dari cara mereka menyikapi jarakku. Ada yang tetap tinggal meski aku diam. Ada yang pergi tanpa pamit, lalu menyalahkanku karena aku gak menjelaskan. Dan aku belajar menerima itu. Karena ternyata, gak semua orang siap memahami proses kita. Dan gak semua orang harus ya. 

Kini, setelah semuanya, aku menyadari aku gak lagi ingin menyenangkan semua orang. Aku ingin jujur pada apa yang aku butuhkan. Karena hanya dengan begitu, aku bisa benar-benar hadir saat kembali. Jadi kalau hari ini aku mendekat lagi, itu bukan karena aku sudah sembuh total, tapi karena aku sudah cukup berdamai dengan yang pernah retak.

Sudah cukup mengerti bahwa menjaga diri bukan berarti egois. Bahwa mengambil jarak bukan berarti menyerah, tapi justru bentuk paling sunyi dari keberanian.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelajaran Berharga dari Kesalahan Kecil

Momen Kecil, Syukur Besar..

Saat Kita jadi Musuh Terbesar bagi Diri Sendiri